Home / Sosbud / Mendunia: Ketika Budaya dan Peradaban Bertarung

Mendunia: Ketika Budaya dan Peradaban Bertarung

Dunia adalah hasil benturan sejarah, dan manusia berhak atas masa depan lewat dialektika antara kebudayaan, peradaban, dan perubahan yang tak terelakkan

Adanya dunia ini terjadi akibat gerak sejarah, momen-momen historis saling berbenturan tanpa terkecuali dan tak terelakkan. Pengendalian terhadapnya tidaklah mungkin karena tidak adanya kesamaan kesadaran dari momen-momen historis itu, tidak adanya kesadaran umum yang baku, serta tidak ada pancang-pancang kebenaran dan kebaikan yang universal. Terjadinya dunia ini disebabkan oleh faktor-faktor yang ada dan terjadi di dunia. Kejadian dunia ini sama sekali tidak terhubung dengan kekuatan-kekuatan mistis atau ramalan yang bersifat takhayul.

Berpikir tentang dunia konkret adalah cara berpikir logis dan realistis dalam menjelaskan fenomena yang terjadi di dunia dengan mencari sebab-sebab yang ada dan terjadi di dunia saja. Dunia ini tidak terhubung sama sekali dengan semesta (ada perbedaan antara dunia dengan planet Bumi). Dengan demikian, Bumi adalah tempat yang tak terelakkan bagi dunia, tetapi esensi Bumi dan eksistensinya belum dapat dijelaskan secara otentik.

Watak eksploitasi dan eksplorasi anak-anak manusia di muka Bumi mengakibatkan perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan. Ada gugatan dari para tradisionalis yang berbunyi,

“Seharusnya seluruh manusia yang tinggal di muka Bumi ini berterima kasih kepada Bumi.”

Pernyataan tersebut tidak berdasar, karena Bumi itu bukan manusia. Keberadaan Bumi dan kosmos masih terus dijelaskan secara rinci oleh hukum-hukum rasional fisika, dan para fisikawan tiada pernah berhenti atau lelah, bahkan rela menyerahkan seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan.

Baca Juga : Esai Filsafat Joko Sukmono : Fantasi

Peradaban manusia adalah akumulasi dari cipta, rasa, dan karsa manusia dalam mendunia, yang menghasilkan budaya konkret bernama peradaban. Pertanyaan timbul: Dimanakah kebudayaan? Peradaban dan kebudayaan berjalan beriringan dalam proses sejarah dan terus berdialektika sepanjang sejarah. Kebudayaan adalah akumulasi nilai-nilai yang dianggap baik dan benar, nilai-nilai fundamental yang dipelihara oleh rezim dan dijadikan sumber sejarah yang otentik. Fungsi kebudayaan adalah sebagai kontrol kehidupan sosial, tetapi akibatnya kebudayaan dapat berubah menjadi rezim yang otoritatif.

Rasio dialektis antara kebudayaan dan peradaban tampak pada kontrol keduanya. Ketika peradaban dinyatakan oleh kebudayaan sebagai tidak beradab (biadab), peradaban tidak terpengaruh, bahkan tidak peduli dengan kritik dari kebudayaan. Hal ini terjadi karena kebudayaan dianggap sebagai sesuatu yang tekstual dan statis, sementara peradaban manusia bergerak progresif dan revolusioner, seiring perkembangan sains dan teknologi.

Manusia esensial mulai dilupakan. Manusia esensial adalah jati diri yang memiliki nilai-nilai keutamaan, yaitu moral. Nilai-nilai itu bersifat transformatif berupa dimensi etis, estetis, maupun religius, yang diterjemahkan sebagai keadilan dan kesejahteraan (dimensi etis), kebebasan (dimensi estetis), dan keyakinan (dimensi religius). Namun, segala keutamaan esensial itu mulai memudar, menjadi bayang-bayang kelabu yang terdampar di kegelapan kehidupan sosial dan teralienasi (terasing dari dunianya).

Baca Juga : Moralitas di Indonesia

Kebudayaan telah terasing dari dunianya, digantikan oleh budaya konkret bernama peradaban. Dalam perjalanan sejarah manusia, kebudayaan menimbulkan malapetaka dan tragedi di muka Bumi. Kebudayaan menciptakan ideologi, agama, perjuangan, pengorbanan, pengabdian, serta jargon tentang keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan, yang berujung pada perang antar bangsa, negara, agama, bahkan ideologi. Contoh tragisnya adalah Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Dingin, Perang Vietnam, konflik Timur Tengah, dan Perang Ukraina.

Revolusi industri adalah gerak sejarah yang tak terelakkan. Sektor-sektor yang berkaitan dengan peradaban, seperti sandang, pangan, dan papan, melebur dalam industrialisasi, termasuk dunia pendidikan, perbankan, moneter, dan birokrasi. Saat ini, digitalisasi menjadi model yang paling digemari manusia di muka Bumi. Hampir tidak ada penolakan terhadap digitalisasi; semuanya serba digital. Mereka yang menentang digitalisasi akan terhempas oleh keadaan.

Perubahan tidak dapat dicegah. Kedatangan yang baru adalah keniscayaan sejarah. Baru adalah keadaan yang berbeda dengan yang lama, tanpa hubungan dengan yang lama. Bila suatu keadaan masih berhubungan dengan yang lama, itu bukan baru, melainkan kelanjutan dari yang lama. Men – Dunia Tiada Pernah berahir, kelanjutan Men- Dunia adalah milik Generasi. Siapakah mereka? Mereka adalah seluruh anak-anak MANUSIA, mereka adalah anak anak manusia yang BERHAK terhadap Masa Depan.

 


 

Oleh : Joko Sukmono

Badan Pendidikan dan Pelatihan

Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (NASMAR)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *