Home / Lensa Marhaenis / Rekonsiliasi Jalan Menuju Kemajuan

Rekonsiliasi Jalan Menuju Kemajuan

Rekonsiliasi Jalan Menuju Kemajuan

Sekian lama kita hidup dalam perpecahan. Apakah perpecahan ini menjadi karakteristik dari GMNI? Tidak, perpecahan yang terjadi hanya bentuk dari ketidak mampuan segelintir kelompok yang ingin GMNI ini rusak.

Sebut saja kelompok mereka itu tidak fase atau tidak memiliki pengetahuan politik untuk mencapai visi Organisasi. Saya sering menyebut kelompok ini ibarat Nafsu jadi pengurus tapi tidak bisa mengurus.

Sekali lagi, “perpecahan terjadi dalam tubuh organisasi hanya soal ketidak mampuan mengelola organisasi”. Lantas kenapa kita tidak mampu mengelola organisasi? Karena mata batin kita tertutup oleh keangkuhan dan keserakaan terhadap kekuasaan.

Baca Juga : GMNI dalam Cengkeraman Kepentingan Politik Struktural

Kita ibarat orang buta menuntun orang buta. Padahal banyak sekali kerja – kerja organisasi yang bisa kita lakukan untuk mencapai kemajuan.

Setidaknya GmnI sebagai Organisasi kader, harus pandai memilih dan memilah, apa yang pantas dan tidak pantas, apa yang layak dan tidak layak untuk menghindari ambisi yang berlebihan, apalagi itu akhirnya berujung pada Perpecahan.

Merebut kekuasaan dengan jalan inkonsistusional adalah cara yang tidak pantas dan tidak layak disebut sebagai kader Pejuang dan Pemikir.

Sering sekali kita melupakan hal – hal dasar yang sebenarnya itu bagian yang sangat fundamental, misalnya seperti kita sering lupa membicarakan ideologi. Justru yang sering kita lakukan adalah membicarakan politik.

Sekarang hal semacam ini sudah menjadi tradisi baru. Bahkan di level akar rumput atau komisariat yang menjadi benteng terakhir Marhaenisme itupun runtuh. Anak komisariat sudah di ajarkan berpolitik praktis sebelum waktunya dibandingkan mengamalkan ideologi.

Baca Juga: Forum Blitar: Dari Haul Bung Karno Menuju Persatuan GMNI

Sebab karena ambisi politik ini semakin tidak dibendung maka yang terjadi banyak kader yang berpolitik tapi tidak dituntun oleh ideologi. Pantas saja sering terjadi perpecahan di antara kita.

Akibat daripada itu kita yang dulunya saudara se-ideologi kini menjadi musuh se-ideologi. Parahnya lagi, kita tidak mencapai yang namanya kemajuan Organisasi, karena kita hanya menghabiskan waktu untuk mengurus perpecahan, sementara itu teman-teman sejawat kita di Organisasi lain telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat. Kita tertinggal jauh. Inilah tugas kita bersama untuk mengejar ketertinggalan.

Rekonsiliasi yang didesain oleh Ketua Umum Bung Risyad dan Sekjend Bung Patra merupakan jalan baru menuju kemajuan. Tidak ada cara lain untuk mencapai kemajuan itu selain adalah bersatu menatap masa depan GMNI.

Rekonsiliasi menjadi tawaran menarik dan memiliki nilai moril kepada siapapun yang ingin melihat GMNI berkembang. Ini bukan soal setuju atau tidak, tapi ini soal merawat kembali nilai – nilai organisasi yang telah lama layu.

Sebagai kader GMNI ketika dipanggil untuk membantu mewujudkan impian ketua umum Bung Risyad dan Sekjend Bung Patra ini merupakan satu panggilan mulia yang mesti menjadi kesempatan untuk sama-sama menatap kemenangan dan kemajuan.

Rekonsiliasi bukan saja kata kiasan tapi merupakan batu loncatan. Kita harus berani mengubah nasib. Melompat dari yang sesuatu yang sebelumnya membuat kita tercerai-berai ke sesuatu yang ingin kita capai yaitu persatuan.

Adakalanya kita harus merefleksikan segala yang terjadi tetapi tidak untuk membuat kita larut dalam dinamika perpecahan yang berkepanjangan, melainkan menemukan jalan kembali pada persatuan.

Sudah saatnya kita bangkit meraih masa depan. GMNI jaya Marhaen menang harus menjadi kenyataan.


Penulis: Bung Yongki, Wakil Ketua DPP GMNI Bidang Organisasi

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *