Syair Marhaenis: Membongkar Republik Indonesia sebagai Republik Ilusi dan Kritik atas Demokrasi Rakyat
Didalam Demokrasi liberal Tidak ada yang mempersoalkan dan mempertanyakan siapa dirimu darimana asalmu
Namun yang dipertanyakan adalah apa kompetensimu
Dan setiap warga negara BERHAK untuk menjadi Pemimpin
Pemimpin berasal dari Warga Negara yg dipilih oleh warga negaranya sendiri
Tidak ada Rakyat
YANG ada adalah people-to-people
Dalam konteks Indonesia ada istilah Rakyat, Namun secara konkret Rakyat itu tidak ada
Rakyat hanyalah JARGON
Jika di Indonesia ini Rakyat itu ada dan menjadi KONKRET maka Kekuasaan akan mudah ditumbangkan oleh Rakyat Jika melakukan penyelewengan terhadap amanat Rakyat
Dikarenakan sudah jelas tertulis didalam UUD th 1945 yang masih digunakan oleh NKRI sebagai dasar dari penyelenggaraan Pemerintah yakni KEKUASAAN ada Ditangan Rakyat
Sedangkan Rakyat itu siapa
Tidak ada Penjelasan
Baca Juga : Syair Marhaenis : Menjadi manusia Methodologis adalah panggilan Sejarah
Apakah Joko Widodo
Apakah Pranowo
Apakah Melawati
Apakah Joko Sukmono
Tidak ada Penjelasan yang mengaturnya
Tentunya perlukah ditetapkan tentang Undang undang Rakyat Indonesia
Dengan uraian singkat ini maka NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA sampai dengan hari ini bukan juli th 2025 ini adalah Negara BANGSA
Dan pada Negara Bangsa itu tidak dibutuhkan adanya Rakyat
Yang perlu ada dan menjadi adalah BANGSA
Jika Rakyat itu memang sudah menjadi pola pikir budaya maka NkRI itu namanya harus dirubah menjadi REPUBLIK RAKYAT INDONESIA
Dan negara yang sedemikian itu tidak memberlakukan Demokrasi Liberal maupun Demokrasi PARLEMENTER
Melainkan Menggunakan Bentuk sistem Demokrasi yang bernama DEMOKRASI RAKYAT.
Baca Juga : GMNI dalam Cengkeraman Kepentingan Politik Struktural
PADA Eta Demokrasi terpimpin Rakyat Indonesia itu ada dan menjadi Konkret
Dikarenakan didalam Penemuan kembali jalannya Revolosi Indonesia telah dengan jalas dan gamblang dinyatakan oleh BUNG KARNO dalam Pidatonya pada peringatan HUT Republik Indonesia yang ke 14 pada tgl 17 Agustus th 1959
Dimana Rakyat adalah BUDI NURANI KEMANUSIAAN.
Dan setelah Padala yang mulia Pemimpin Besar REVOLOSI penyambung lidah rakyat Indonesia ini Mengalami Kesenjaan hidup dan kekuasaan berangsur angsur jatuh kegenggsman Suharto mska Rakyat konkret yang Telah ada Dan Menjadi itu, Eksistensinya ditiadakan namun ESENSINYA tetap dipertahankan namun
Rakyat hanyalah dijadikan
Sebagai HANTU SOSIAL POLITIK yang daripadanya Siap dijadikan JARGON dan Slogan
Contoh banyak istilah yang di goreng goreng tentang si HANTU’ SOSIAL POLITIK (RAKYAT) itu
Misalnya ada Postulat yang berbunyi
KESEJAHTERAAN RAKYAT
Dan hal itu tidaklah mungkin Diwujudkan
Dikatakan Kekuasaan melepaskan Hantu baru bernama Masyarakat untuk diadu domba Dengan RAKYAT
Contohnya Postulat yang dilepaskan ke publik adalah
KEBAHAGIAAN MASYARAKAT.
MASYARAKAT ADIL dan MAKMUR
Narasi ini bisa dikatakan sebagai Narasi yang manipulatif
Dan jika ditinjau dari berfikir yang Filosofis dia adalah KEJAHATAN PUBLIK yang terstruktur sistematis dan Masif
Yang dipertanyakan oleh seorang Filsuf sosial Indonesia bernama Joko Sukmono adalah
Apakah Presiden Republik Indonesia sekarang Prabowo Subianto itu memahami kondisi budaya SOSIAL POLITIK KRONIK seperti itu ?????
Jika tidak ada yang memahami berartii Indonesia ini bukan Negara yang Konkret Namun sebuah Negara abstrak yang seluruh komponen maupun instrumennya adalah ILUSIF
Inilah gambaran dari POTRET NKRI itu.
Oleh : Joko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatian
Gerakan Pemuda dan Pelatihan
(NASMAR)










