Home / Opini / Ketika Masa Lalu Mengetuk Pintu Hari Ini: Membaca 30 September dari Lubang Buaya

Ketika Masa Lalu Mengetuk Pintu Hari Ini: Membaca 30 September dari Lubang Buaya

Ada sesuatu yang berbeda ketika sejarah tidak lagi kita temukan hanya di halaman buku.

gmnimalang.org– Malang, Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk buku, ruang kelas, atau catatan yang tersimpan di perpustakaan. Ada kalanya sejarah hadir melalui sebuah tempat, sebuah monumen, sebuah foto, atau ingatan yang kembali muncul bertahun-tahun setelah sebuah peristiwa berlalu.

Bagi Yohanes Reinaldi Batista Nasir, kawasan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, menjadi salah satu tempat yang menghadirkan pengalaman tersebut. Setahun setelah mengunjungi kawasan bersejarah itu, ia kembali melihat sebuah foto yang membawanya pada pertanyaan mengenai bagaimana generasi muda seharusnya mengingat dan membaca sejarah bangsa.

“Setahun lalu, saya berdiri di tempat ini. Di depan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya. Tempat yang selama ini mungkin hanya saya kenal melalui buku pelajaran, cerita guru, dokumentasi sejarah, atau potongan-potongan gambar yang muncul setiap kali memasuki akhir September,” tulis Yohanes dalam refleksinya.

Menurutnya, pengalaman berada langsung di tempat bersejarah memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar membaca sejarah melalui buku.

“Kita tidak hanya melihat sebuah monumen. Kita berhadapan dengan ingatan,” tulisnya.

30 September dan Ingatan Sejarah Indonesia

Tanggal 30 September memiliki tempat khusus dalam ingatan sejarah Indonesia karena berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan rangkaian kekerasan politik yang terjadi setelahnya.

Kawasan Lubang Buaya kemudian menjadi salah satu situs penting dalam memori resmi mengenai gugurnya sejumlah perwira Angkatan Darat dan berkembang menjadi kawasan Monumen Pancasila Sakti. Museum Pancasila Sakti merupakan museum khusus yang dikelola oleh Pusat Sejarah TNI.

Namun bagi Yohanes, mengingat 30 September tidak cukup hanya dengan mengulang bahwa sebuah peristiwa pernah terjadi.

Baca Juga: GMNI Bukan Underbow PKI: Jangan Seret GMNI kedalam Sejarah yang Bukan Miliknya

Sejarah, menurutnya, harus mendorong generasi muda untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam mengenai apa yang terjadi, mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, bagaimana masyarakat mengalaminya, serta bagaimana konflik politik dan ideologi memberikan dampak terhadap kehidupan bangsa.

“Sejarah tidak boleh berhenti pada kalimat bahwa peristiwa itu pernah terjadi. Sejarah harus membuat kita bertanya,” tulisnya.

Pertanyaan tersebut, menurut Yohanes, menjadi bagian penting dari tanggung jawab mahasiswa.

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi generasi yang menghafal tahun 1945, 1965, 1998, dan berbagai tanggal penting lainnya. Mahasiswa juga dituntut untuk mampu membaca sejarah secara kritis, memahami konteks, serta melihat pengalaman manusia di balik sebuah peristiwa.

Sejarah Bukan Sekadar Kumpulan Tanggal

Dalam refleksinya, Yohanes menempatkan sejarah sebagai pengalaman manusia.

Di balik sebuah konflik politik terdapat manusia yang kehilangan keluarga, kehilangan masa depan, hidup dalam ketakutan, maupun menjalani kehidupan dengan membawa luka dari sebuah konflik politik yang besar.

Karena itu, penghormatan terhadap sejarah tidak cukup hanya dengan mengenang para korban atau tokoh yang gugur.

“Penghormatan yang lebih jauh adalah memastikan bahwa generasi setelah kita tidak kehilangan kemauan untuk belajar dari sejarah,” tulisnya.

Menurut Yohanes, kunjungan ke tempat bersejarah seharusnya tidak berhenti pada aktivitas dokumentasi.

Seseorang tidak hanya datang untuk mengatakan bahwa dirinya pernah berada di sebuah tempat, tetapi juga perlu bertanya mengenai apa yang dilihat, apa yang dikenang, dan pelajaran apa yang dapat dibawa pulang.

Setahun setelah kunjungan tersebut, foto yang dahulu hanya menjadi dokumentasi perjalanan justru dipandang memiliki makna yang berbeda.

“Foto ini mengingatkan saya bahwa perjalanan sejarah bangsa tidak boleh hanya menjadi latar belakang sebuah foto,” tulisnya.

Bagi Yohanes, yang dibawa pulang dari Lubang Buaya bukan hanya foto, melainkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia pernah melewati masa yang sangat berat.

Kesadaran tersebut kemudian membawa pada tanggung jawab generasi muda untuk menjaga agar perbedaan tidak kembali berubah menjadi kebencian dan kekerasan.

Baca Juga: SURAT UNTUK PEREMPUAN

Mengingat Sejarah Tidak Berarti Membenci

Salah satu pesan utama dalam refleksi Yohanes adalah bahwa mengingat sejarah tidak identik dengan membenci.

Pembahasan mengenai 30 September kerap membawa berbagai perspektif. Ada yang melihatnya melalui narasi resmi negara, kesaksian keluarga, literatur akademik, pengalaman masyarakat, maupun perspektif politik yang berkembang kemudian.

Karena itu, menurut Yohanes, generasi muda tidak seharusnya membaca sejarah hanya dari satu sudut pandang.

“Sebagai mahasiswa, saya merasa kita harus mempunyai keberanian untuk membaca berbagai sumber, membandingkan keterangan, memahami konteks zaman, dan membedakan antara fakta, kesaksian, tafsir, serta kepentingan politik yang muncul di kemudian hari,” tulisnya.

Ia menilai berpikir kritis bukan berarti mengurangi penghormatan terhadap sejarah.

Sebaliknya, kemampuan untuk berpikir kritis merupakan bagian dari cara menghormati sejarah karena generasi muda memiliki tanggung jawab untuk memahami masa lalu secara lebih utuh.

“Kalau sejarah hanya dijadikan alat untuk saling membenci, maka kita belum benar-benar belajar dari sejarah. Kita hanya sedang mewarisi pertengkaran masa lalu,” tulisnya.

Sejarah Membutuhkan Cerita dan Ingatan

Yohanes juga melihat tanggal 30 September dari perspektif yang lebih luas. Pada tingkat internasional, tanggal tersebut diperingati sebagai International Translation Day yang ditetapkan melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 71/288 Tahun 2017.

Penerjemahan ditempatkan sebagai salah satu sarana untuk mempertemukan bangsa, membangun dialog, meningkatkan pemahaman, serta memperkuat kerja sama dan perdamaian.

Tanggal yang sama juga diperingati sebagai International Podcast Day, sebuah peringatan yang berkembang dari komunitas podcast untuk merayakan podcast sebagai ruang komunikasi dan berbagi cerita.

Bagi Yohanes, keberadaan dua peringatan tersebut memberikan refleksi tersendiri.

“Sejarah membutuhkan bahasa. Sejarah membutuhkan cerita. Dan sejarah membutuhkan orang yang mau menyampaikan cerita itu kepada generasi berikutnya,” tulisnya.

Menurutnya, generasi muda saat ini mempunyai ruang yang sangat luas untuk merawat ingatan sejarah. Tidak hanya melalui buku, diskusi kampus, seminar, dan tulisan ilmiah, tetapi juga melalui media sosial, video, podcast, film dokumenter, serta berbagai ruang digital lainnya.

Baca Juga: Evaluasi total MBG : Bukan Sekedar dipuji atau ditolak

Namun kebebasan menyampaikan cerita sejarah juga harus disertai tanggung jawab.

Sejarah tidak boleh disampaikan secara serampangan hanya demi mendapatkan perhatian. Peristiwa sejarah tidak boleh dipotong hingga kehilangan konteks dan tidak seharusnya dijadikan bahan untuk saling menghina.

“Jangan menjadikan tragedi sebagai bahan untuk saling menghina. Dan jangan pula menjadikan sejarah sebagai alat untuk membenarkan kebencian,” tulisnya.

Mahasiswa Harus Berani Bertanya

Bagi Yohanes, menjadi mahasiswa berarti memiliki kewajiban untuk bertanya.

Ia tidak ingin mahasiswa hanya mengetahui bahwa 30 September merupakan tanggal yang berkaitan dengan sebuah peristiwa sejarah. Lebih dari itu, mahasiswa perlu memahami mengapa bangsa Indonesia pernah berada dalam situasi politik yang begitu kompleks, bagaimana konflik politik berkembang menjadi tragedi kemanusiaan, bagaimana narasi sejarah dibentuk, serta bagaimana masyarakat biasa mengalami perubahan politik yang besar.

Pertanyaan tersebut juga berkaitan dengan bagaimana Pancasila ditempatkan dalam perjalanan bangsa setelah peristiwa 1965.

Menurutnya, Pancasila tidak seharusnya hanya hadir dalam upacara atau pidato formal.

Pancasila juga harus tercermin dalam cara masyarakat memperlakukan perbedaan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menghadapi orang yang memiliki pandangan berbeda.

“Berbeda pendapat tidak harus berakhir dengan saling membenci,” tulisnya.

Pesan tersebut menjadi penting bagi generasi mahasiswa yang hidup dalam ruang demokrasi dan keterbukaan informasi.

Perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk berdiskusi, bukan alasan untuk menghidupkan kembali kebencian yang berasal dari konflik masa lalu.

Dari Monumen Menjadi Pengingat

Setahun lalu, Yohanes datang ke Lubang Buaya bersama teman-temannya. Saat itu, perhatian mungkin lebih banyak tertuju pada monumen, patung, museum, serta berbagai peninggalan sejarah yang berada di kawasan tersebut.

Namun ketika foto kunjungan tersebut kembali dilihat satu tahun kemudian, cara pandangnya berubah.

“Dulu saya melihat sebuah monumen. Sekarang saya melihat sebuah pengingat,” tulisnya.

“Dulu saya melihat patung-patung. Sekarang saya melihat sebuah bagian dari perjalanan panjang bangsa yang perlu dipahami.”

Baca Juga: Maut di Ujung Pena: Potret Kelam Pendidikan di Pelosok Negeri

Foto tersebut kemudian menghadirkan sebuah pertanyaan yang lebih besar: setelah generasi hari ini mempelajari sejarah, Indonesia seperti apa yang akan ditinggalkan bagi generasi berikutnya?

Bagi Yohanes, tidak ada jawaban yang sempurna atas pertanyaan tersebut.

Namun ada satu keyakinan yang menurutnya penting: bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah mengalami tragedi, melainkan bangsa yang berani menghadapi sejarahnya, belajar darinya, dan tidak membiarkan luka masa lalu menjadi alasan untuk menciptakan luka yang baru.

Mengenang untuk Belajar

Tanggal 30 September, menurut Yohanes, seharusnya menjadi momentum untuk mengenang sekaligus belajar.

Bukan untuk memelihara kebencian. Bukan pula untuk menghidupkan kembali pertentangan masa lalu.

Melainkan untuk memahami bahwa bangsa Indonesia pernah melewati sejarah yang berat dan bahwa kehidupan berbangsa yang damai, demokratis, dan berkeadilan harus terus dirawat.

Sebagai mahasiswa, proses tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membaca, bertanya, berdiskusi, memeriksa sumber, dan tidak takut berpikir.

“Sejarah bukan kuburan bagi pikiran. Sejarah justru harus menjadi ruang bagi pikiran untuk tumbuh,” tulis Yohanes.

Setahun lalu, mereka datang ke Lubang Buaya.

Hari ini, foto tersebut kembali menjadi pengingat.

Besok, mungkin foto itu hanya menjadi arsip di galeri. Namun harapannya, pelajaran dari perjalanan tersebut tidak ikut menjadi arsip.

Sebab sejarah boleh menjadi masa lalu, tetapi tanggung jawab terhadap masa depan tetap berada di tangan generasi hari ini.

30 September:
Kita mengenang.
Kita membaca.
Kita berpikir.
Dan kita belajar menjadi Indonesia.

Salam berpikir.
Salam perjuangan.
Hidup Mahasiswa!


Oleh : Yohanes Reinaldi Batista Nasir
Ketua DPK GMNI Unikama

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *