Home / Lensa Marhaenis / Menemukan Diri dalam Jalan Ideologi: Menghidupkan Marhaenisme di Tengah Kegamangan Zaman

Menemukan Diri dalam Jalan Ideologi: Menghidupkan Marhaenisme di Tengah Kegamangan Zaman

Forum ini tidak hanya menggugah, tapi juga membakar semangat untuk kembali bertanya tentang relevansi ideologi dalam kehidupan mahasiswa hari ini.

Di tengah realitas sosial-politik bangsa yang semakin kompleks dan jauh dari cita-cita keadilan sosial, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DPC Malang bersama Dewan Pengurus Komisariat se-Universitas Wisnuwardhana kembali menggugah kesadaran ideologis kader-kadernya melalui forum “Ruang Ideologi #1” dengan tema “Jalan Ideologi: Menemukan Diri dalam Marhaenisme”.

Disampaikan oleh Bung Gusti Indra, Subbidang Ideologi DPC GMNI Malang, forum ini bukan sekadar ajang diskusi biasa. Ia adalah ruang kaderisasi ideologis yang bernas, ruang pembacaan ulang terhadap sejarah dan semangat perlawanan rakyat kecil yang digali langsung dari akar Marhaenisme. Di sinilah setiap kader diajak untuk kembali bertanya: Siapa aku dalam perjuangan ini? Di mana aku berdiri dalam sejarah rakyat?

Marhaenisme: Ideologi yang Berpihak

Marhaenisme bukan sekadar warisan pikiran Bung Karno, melainkan refleksi nyata dari perjumpaan historis antara pemimpin dan rakyat. Seperti dikisahkan, Soekarno tidak menemukan ilham Marhaenisme dari tumpukan buku tebal, melainkan dari tatapan mata dan jerih payah seorang petani kecil di selatan Bandung bernama Marhaen. Ia memiliki cangkul, tanah, dan tenaga, namun tetap terjerat dalam kemiskinan struktural. Maka dari itu, Marhaenisme menjadi suara yang berpihak—bukan netral—kepada mereka yang tertindas oleh sistem kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme.

Baca Juga : Meneguhkan Marhaenisme di Tengah Krisis Bangsa: Musyawarah Komisariat GMNI UNIDHA sebagai Panggung Regenerasi dan Konsolidasi Ideologis

Menghidupkan Pancalogi dan Trisila Marhaenisme

Forum ini kembali menegaskan bahwa ideologi bukan sekadar slogan atau hafalan pasif. Ideologi, seperti ditegaskan dalam Pancalogi GMNI, adalah alat analisis, arah perjuangan, dan kesadaran eksistensial. Melalui semangat revolusi, disiplin organisasi, studi yang konsisten, dan integrasi dengan rakyat, kader GMNI diharapkan menjadi intelektual organik—bukan menara gading, tapi api yang menyala dalam denyut rakyat.

Trisila Marhaenisme—Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa—menjadi dasar moral dan politik dalam mengartikulasikan perjuangan yang membumi. Di sinilah pentingnya memahami kutub-kutub ideologi dunia: dari kapitalisme yang memuja kebebasan individu tapi abai terhadap ketimpangan, hingga komunisme yang menjunjung kolektivitas namun kerap menindas kebebasan personal. Marhaenisme hadir sebagai jalan tengah yang kuat dan demokratis: berpihak pada rakyat dan menjaga kedaulatan bangsa.

Mengapa Ruang Ideologi Penting?

Forum ini tidak hanya menggugah, tapi juga membakar semangat untuk kembali bertanya tentang relevansi ideologi dalam kehidupan mahasiswa hari ini. Di tengah kampus yang mulai menjadi lahan kompetisi kapitalistik, di tengah maraknya apatisme politik dan pragmatisme gerakan, forum ini menampar kesadaran kita semua: perjuangan belum selesai.

Kader bukan sekadar identitas, tapi tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu hanya mungkin dipikul jika ada kesadaran, keberanian, serta strategi yang tepat. Itulah pesan penting dari forum ini: kesadaran, melawan, keberanian, dan stratak (strategi dan taktik) sebagai pondasi utama perjuangan ideologis.

Baca Juga : Filsafat Kebudayaan Pancasila: Menemukan kembali Akar Jiwa Bangsa

Menutup Jalan, Membuka Arah

Sebagaimana ditegaskan dalam forum tersebut, jalan menuju perubahan bukan sekadar soal memekikkan tuntutan. Ia dimulai dari menemukan diri sendiri dalam ideologi. Ideologi yang tak hanya dipelajari, tapi dihayati dan dijalani. Karena tanpa ideologi, gerakan hanya menjadi ombak yang mudah surut. Namun dengan ideologi, setiap kader adalah gelombang yang bisa menghantam ketidakadilan, membasuh ketertindasan, dan membuka jalan bagi keadilan sosial sejati.

Mari hidupkan kembali semangat Marhaen di ruang-ruang kelas, di tengah masyarakat, dan di dalam hati setiap pejuang. Karena seperti kata Bung Karno, “Kita bukan bangsa tempe. Kita adalah bangsa yang besar. Dan bangsa besar harus berpikir besar dan berjiwa besar.”

 

Oleh : Redaksi GMNI Malang

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *