Home / Opini / Monolog | Esai Filsafat | Joko Sukmono

Monolog | Esai Filsafat | Joko Sukmono

Situasi batas sosial konkret dalam sejarah manusia, dari kejatuhan tirani hingga kematian lembaga-lembaga sosial lama, melalui lensa eksistensialisme dan hukum rasional sejarah. Teks ini mengajak pembaca merenungi masa depan manusia konkret dalam dunia yang terus berubah.

Pergerakan manusia individual konkret di dalam Men-Dunia menjadikan terbentuknya manusia sosial konkret.
Dari-Nya, KERAJAAN MATERIAL di dunia diwujudkan.
Tindakan-tindakan produktifnya menjadikan dunia BERADA PADA POSISI EKSISTENSINYA YANG AUTENTIK.

Dunia telah menjadi miliknya.
Dunia telah berada pada posisi ESENSINYA YANG TERGENGGAM ERAT.

Dan anak-anak manusia yang tinggal di muka bumi ini terus-menerus berkembang, bertumbuh menjadi manusia KONKRET.

Dan itulah distribusi embriologis yang terdistribusi di seluruh pelosok BUMI sebagai manusia KONKRET yang BERDIKARI.

Baca Juga : Perang, Imperialisme, dan Masa Depan Dunia | Seri 5 imperialisme | Joko Sukmono

Lompatan-Lompatan Filosofis terhadap Situasi BATAS SOSIAL KONKRET

Pada posisi ESENSINYA YANG DISORIENTATIF, keberadaan situasi batas sosial adalah suatu keadaan yang misterius.
Hanya ada dua jalan darinya:

  1. Mundur kembali kepada situasi sosial lama yang ABSURD dan ILUSIF, yang berakibat pada tumbuh suburnya FANATISME, yang berujung pada KEPUNAHAN tanpa pernah menumbuhkan tunas-tunas baru yang unggul.
    Boleh dinyatakan sebagai suatu kondisi sosial yang gelap, yang tidak pernah ada kelanjutan kehidupan sosial manusia lagi, dan terlupakan oleh SEJARAH.
  2. Tidak BERADA PADA POSISI SITUASI BATAS SOSIAL itu, tetapi terus bergerak menuju masa depan.

Bergerak pada jalan SEJARAH yang terang benderang dengan KESADARAN PENUH
Sebagai manusia individu konkret dan sebagai manusia sosial konkret.

SITUASI BATAS SOSIAL

Yang dimaksud dengan situasi BATAS SOSIAL adalah suatu proses yang terakumulasi dan berhenti pada titik ultimasif.
Kondisi objektif psikologis-sosiologis seperti itu adalah akhir dari tindakan-tindakan sosial dalam rangka dunia bekerja.
Tindakan-tindakan tersebut adalah berjalannya sistem sosial yang digerakkan oleh institusi dan partisipasi dari seluruh anak-anak manusia dalam Men-Dunia.
Namun, karena adanya oposisi dan posisi yang berbenturan—dan benturan-benturan tersebut tak terhindarkan—maka segala bentuk sosial berhenti pada titik ultimasif yang bernama SITUASI BATAS SOSIAL KONKRET.

Situasi batas sosial yang terjadi dalam sejarah kehidupan sosial manusia berupa tragedi-tragedi sosial seperti perang, pembantaian massal, pembangkangan sosial,
krisis pangan, krisis ekonomi, dan sebagainya.

Baca Juga : Perjalanan Eksistensial Manusia | Joko Sukmono

Potret dunia sosial manusia saat ini, di abad ke-21, ditandai oleh jebolnya dinding-dinding tirani, runtuhnya tembok-tembok kekuasaan, matinya hantu-hantu sosial, dan terbunuhnya drakula politik.
Para tiran BERADA PADA POSISI ESENSINYA YANG ABSURD.
Para antek-antek penguasa berlarian tunggang-langgang tanpa arah
dan akhirnya terdampar pada situasi batas sosial yang mengerikan.
Apakah itu?
Dia adalah GODAM SEJARAH yang meremukkannya.
Dia adalah baja sejarah yang menghantamnya.
Dia adalah kesenjaan hidup para pelaku sejarah yang AHISTORIS.

Situasi batas sosial ini telah konkret di setiap pojok-ruang sosial, juga sudah terjadi di setiap lorong-lorong sosial.
Hal semacam itu adalah sebuah manifestasi dari hukum RASIONAL SEJARAH yang aktif dijalankan oleh hukum RASIONAL PERALIHAN.
Peralihan yang dimaksud adalah beralihnya pola pikir anak-anak manusia.
Yang telah meninggalkan pola-pola pikir lama yang ABSURD dan ILUSIF menuju pola pikir baru yang logis dan realistis.

Ajaran lembaga sosial lama yang gelap berbunyi sebagai berikut:

“Perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian adalah mutlak dan wajib bagi anak-anak bangsa.”

Pernyataan dari REJIM LEMBAGA SOSIAL lama ini adalah ajakan untuk menyokong terwujudnya hegemoninya. Namun, GAGAL.

Hal semacam itu berakibat pada tumbuh dan berkembangnya fanatisme serta loyalitas yang berlebihan kepada lembaga sosial.
Yang fatal adalah ketika loyalitas diarahkan kepada kepemimpinan.
Inilah awal tergulungnya LEMBAGA SOSIAL lama oleh hukum rasional perubahan.
Ketika keberadaan lembaga sosial lama tersebut ABU-ABU, maka sudah dapat dipastikan akan terjerumus kepada SITUASI BATAS SOSIAL yang GELAP.

GODAM SEJARAH di Abad 21

GODAM SEJARAH di abad ke-21 ditandai oleh terbunuhnya dua tiran: Saddam Hussein dari IRAK dan Muammar Khadafi dari LIBIA.
BAJA SEJARAH di abad ke-21 ditandai oleh tumbangnya rezim ASSAD di SURIAH.
Kesenjaan hidup para pelaku sejarah yang AHISTORIS di abad ke-21 tampak dalam potret perang Ukraina dan konflik di Timur Tengah.

Kesenjaan historis ini terus bergerak, menghampiri siapa saja dan apa saja yang AHISTORIS.
Dan hukum rasional perubahan BERADA PADA POSISI EKSISTENSINYA YANG.
S I A G A P E N U H
untuk menghampiri siapa saja dan apa saja yang KONTRA terhadap PERUBAHAN.

Situasi batas sosial itu adalah keseluruhan REALITAS SOSIAL KONKRET yang ada di muka bumi.
Ia ada di dunia yang sedang berkembang pesat.

Baca Juga : Pada Hari Ini: Situasi Batas Sosial dan Manusia Konkret | Djoko Sukmono

KEMATIAN HANTU SOSIAL

Hantu sosial adalah pandangan-pandangan tentang tatanan kehidupan sosial manusia yang tinggal di muka bumi, yang digerakkan oleh sistem sosial.
Pergerakan hantu sosial itu, dalam kegentayangannya, berwujud nilai-nilai yang dianggap fundamental,
misalnya nilai-nilai yang disepakati.

Bentuk-bentuk hantu sosial itu adalah LEMBAGA SOSIAL, LEMBAGA AGAMA, dan LEMBAGA KEBUDAYAAN.

Kematian hantu sosial adalah terdamparnya LEMBAGA SOSIAL, LEMBAGA AGAMA, dan LEMBAGA KEBUDAYAAN pada situasi BATAS SOSIAL.
Mereka ditinggalkan dan tidak tertengok lagi oleh generasi,
dan telah menjadi endapan-endapan struktur LAPUK yang dilupakan oleh sejarah.


Oleh : Joko Sukmono

Badan Pendidikan dan Pelatihan

Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis

( NASMAR )

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *