Dinamika sosial politik di Indonesia hanya mampu menghantarkan anak-anak bangsanya kepada identitas politik saja. Namun demikian, identitas politik tersebut (Pancasila, gotong royong, dan anti-NEKOLIM) berada pada posisi semu.
Pada dasarnya, dinamika kehidupan sosial manusia di dalam men-Dunia dipengaruhi secara mutlak oleh dinamika sosial politik yang terjadi pada masa tertentu, yaitu kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang. Sebuah kejadian politik berpengaruh besar terhadap tingkah laku sosial di masyarakat, dan tingkah laku sosial sebaliknya juga mempengaruhi tingkah laku politik. Hal demikian adalah wajar ketika dinamika keduanya sanggup membentuk berbagai situasi sosial politik yang tak terelakkan dan sanggup membentuk suatu perubahan sosial yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan sosial manusia yang tinggal di muka bumi.
Situasi sosial politik yang terbentuk oleh tingkah laku politik adalah suatu kondisi psiko-sosial konkret berupa identitas politik yang baru, yaitu cara pandang mayoritas sosial terhadap nilai-nilai fundamental yang terakumulasi menjadi sikap mental politik. Contoh identitas politik yang telah menjadi kepribadian di Prancis sampai saat ini adalah Liberté, Égalité, Fraternité. Di Indonesia, identitas politik yang menjadi pandangan hidup mayoritas komponen bangsa adalah Pancasila, gotong royong, dan anti-NEKOLIM.
Baca Juga :Â Kebangkitan Nasional
Situasi sosial politik dengan dinamikanya juga bisa membentuk identitas sosial yang merupakan respons terhadap situasi sosial politik yang telah berlangsung maupun yang sedang berlangsung. Di negara maju, identitas sosialnya dikenal sebagai neo-liberal, libertarian, serta esensial industrial. Namun, di Indonesia, dinamika sosial politik tidak mampu membentuk identitas sosial dikarenakan negara ini berada di bawah cengkraman rejim-rejim yang terlalu kuat dan kokoh untuk membidani lahirnya identitas sosial yang baru.
Dapatlah dikatakan dengan ekstrem bahwa jika suatu bangsa tidak memiliki identitas sosial, maka bangsa tersebut akan berada pada posisi esensinya yang stagnan dan dapat dipastikan tidak akan pernah mencapai kemajuan.
Dinamika sosial politik di Indonesia hanya mampu menghantarkan anak-anak bangsanya kepada identitas politik saja. Namun demikian, identitas politik tersebut (Pancasila, gotong royong, dan anti-NEKOLIM) berada pada posisi semu. Hal ini dapat disaksikan dalam pertunjukan-pertunjukan politik manipulatif yang berakibat pada hilangnya identitas politik tersebut. Jika suatu bangsa tidak beridentitas, berarti negara telah gagal dalam menyelenggarakan pemerintahan negara bagi bangsanya, rakyatnya, dan masyarakatnya.
Inilah sebuah argumen mengapa Indonesia dalam dinamika sosial politiknya selalu mengalami situasi psiko-sosial yang patologis, karena kejahatan yang terstruktur, sistematis, dan masif yang dilakukan oleh rejim—baik rejim politik, sosial, kebudayaan, maupun keagamaan.
Rejim seperti inilah yang dinamakan bentuk baru dari neo-kolonialisme dan imperialisme yang mendapat dukungan mutlak dari para Homo Economicus kapitalisme. Indonesia saat ini adalah sebuah negara yang dipandang tidak becus dalam pembentukan karakter bangsa yang beridentitas politik dan sosial. Dengan ekstrem, dapat dikatakan sebagai sebuah negara-bangsa yang tidak beridentitas.
Baca Juga :Â Refleksi Reformasi Mei 1998: Perbandingan dengan Gerakan Mei 1968 di Perancis
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegagalan pembentukan identitas politik dan sosial tersebut disebabkan oleh bercokolnya rejim sosial, kebudayaan, maupun keagamaan yang tidak terintegrasi secara simultan dengan rejim politik yang berkuasa. Hal ini terjadi karena adanya paradoks yang menghantui rejim politik yang merasa lemah dan membutuhkan dukungan dari rejim sosial, kebudayaan, maupun keagamaan. Sedangkan, situasi sosial politik saat ini menunjukkan bahwa ketiganya sudah berada pada esensi yang lapuk dan menjadi endapan-endapan sampah budaya yang tidak berguna lagi.
Dalam keadaan yang demikian, rejim politik memiliki sebuah momentum untuk menjalankan tugas mulianya, yaitu melaksanakan tugas utama pembentukan karakter bangsa dalam menyongsong kemajuan bangsa dengan didukung oleh anak-anak bangsa yang memiliki identitas ideologis, politik, sosial, dan budaya yang dapat dijadikan pijakan berpikir, berbicara, dan bertindak sebagai sebuah bangsa yang tangguh dan cerdas dalam mengantisipasi perubahan sosial yang terjadi, baik yang datang dari luar Indonesia maupun dari dalam Indonesia itu sendiri.
Inilah pentingnya identitas bangsa. Inilah pentingnya doktrin negara-bangsa Indonesia, berupa Pancasila, gotong royong, dan anti-NEKOLIM, yang menjadikan bangsa Indonesia berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan dengan semboyan: Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.
Oleh : Joko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatian
Gerakan Pemuda dan Pelatihan
(NASMAR)










