Respon terhadap imperialisme melahirkan humanisme di segala aspek kehidupan sosial manusia.
Respon terhadap imperialisme melahirkan humanisme di segala aspek kehidupan sosial manusia. Imperialisme tidak hanya berasal dari bangsa asing yang menjajah suatu bangsa, tetapi juga dapat berasal dari suatu bangsa yang menjajah bangsanya sendiri.
Humanisme adalah pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat segala keutamaan dalam menjalani hidup di muka bumi. Humanisme inilah yang melahirkan konsep-konsep besar tentang manusia dan kemanusiaan. Konsep tentang manusia konkret dapat dilihat dari lahirnya eksistensialisme, sementara konsep tentang kemanusiaan tercermin dalam semboyan Revolusi Prancis, yaitu: Liberty, Egality, dan Fraternity.
Konsep-konsep tersebut terus berkembang dan bertumbuh menjadi dambaan setiap manusia yang tinggal di muka bumi. Humanisme telah menjadi budaya yang tak terelakkan bagi setiap manusia dalam proses mendunia. Namun, dalam proses tersebut, manusia seringkali mengalami benturan kepentingan yang berkepanjangan dan terus berlanjut menuju situasi yang tak berujung.
Baca Juga :Â Jaman Konkret : Meremukkan Ilusi Terminologis yang Mengikat Kesadaran Sosial
Inilah peperangan terbesar yang belum menemukan titik temu antara manusia yang humanis (yang memperjuangkan humanisme) dan manusia yang menganggap humanisme hanyalah sebuah ilusi. Mereka yang terakhir ini lebih mementingkan kebesaran diri maupun kebesaran struktur sosialnya (komunitas sosial yang terorganisir).
Bagi manusia yang telah merasakan pahit dan getir dalam memperjuangkan humanisme, perjuangan mereka secara bertahap mulai surut dan memudar. Hal ini disebabkan oleh runtuhnya perjuangan humanisme di segala aspek kehidupan sosial. Contohnya adalah runtuhnya berbagai struktur sosial yang memperjuangkan humanisme, yang kini terhempas menjadi struktur yang tragis. Cita-cita mulia tentang kemanusiaan hingga abad ke-21 ini belum nampak jelas terwujud, seperti cita-cita Proklamasi di Indonesia yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang masih jauh dari kenyataan.
Perkembangan sosial adalah gerak sejarah kehidupan sosial manusia yang tak terelakkan sehingga melahirkan budaya yang berbeda-beda di setiap era dan keberadaan manusia konkret. Dalam proses pertumbuhannya, manusia sering mengalami kebuntuan dalam orientasinya, dan disorientasi ini adalah hal yang wajar.
Secara fundamental, gerakan humanisme di eks Hindia Belanda melahirkan sosok eksistensialis bernama Soekarno dengan humanismenya yang digali dari philosophy grondslag (filsafat hukum), yakni: Pancasila dengan semboyan “Merdeka” dari kolonialisme dan imperialisme.
Inilah humanisme Indonesia: bebas dari berbagai bentuk dan wajah kolonialisme serta imperialisme. Sepanjang hidupnya, eksistensialis Indonesia ini melawan NEKOLIM hingga ke akar-akarnya dengan menyerahkan seluruh hidupnya untuk menghapus imperialisme dari kehidupan sosialnya, terutama demi terbebasnya bangsa, negara, masyarakat, dan seluruh rakyat Indonesia dari cengkeraman imperialisme.
Baca Juga :Â Inovasi Organisasi: Katalisator Transformasi Pendidikan Vokasi di Era Digital
Seluruh komponen bangsa, masyarakat, dan rakyat Indonesia mendukung penuh perjuangan Bung Karno dalam menghapuskan NEKOLIM dari bumi Indonesia. Namun, setelah Bung Karno wafat, pekik “Merdeka” dan “Ganyang NEKOLIM” tidak lagi terdengar. Sisa-sisa faham imperialisme yang sudah sekarat di Indonesia mulai bangkit kembali dan mendapatkan suntikan baru bernama neoliberalisme. Rezim setelah Bung Karno menjadi penyokong utama berlangsungnya imperialisme di Indonesia. Dengan ekstrim, dapat dikatakan bahwa rezim inilah bentuk baru dari imperialisme, yang membuat bangsa Indonesia dijajah oleh bangsanya sendiri. Inilah kejahatan terbesar terhadap kemanusiaan, inilah dehumanisasi yang sedang berlangsung di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai dan junjung tinggi.
Aspek-aspek kehidupan sosial manusia Indonesia yang dihancurkan meliputi: Pancasila sebagai landasan ideal NKRI dan manipulasi konstitusi yang bertentangan dengan amanat Mukadimah UUD 1945. Keberanian rezim setelah Bung Karno untuk mengamandemen UUD 1945 dengan memasukkan unsur-unsur demokrasi dan tatanan ketatanegaraan serta pemerintahan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, serta yang tidak cocok dengan kepribadian dan budaya luhur bangsa Indonesia, yaitu gotong royong, merupakan salah satu bentuk dehumanisasi.
Dengan demikian, seluruh komponen bangsa, elemen masyarakat, dan seluruh rakyat Indonesia wajib melawan dehumanisasi yang secara terstruktur, sistematis, dan masif telah dilakukan oleh rezim ini selama lebih dari lima dasawarsa.
Siapakah mereka? Mereka adalah agen-agen dokma asing, kapitalis-kapitalis, dan para kabir serta sekutu-sekutunya.
Selamat belajar dan membaca. Semoga bermanfaat.
Oleh : Joko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatian
Gerakan Pemuda dan Pelatihan
(NASMAR)










