Hadirnya Forum Nasional Komunikasi Persatuan adalah terobosan penting yang perlu didukung semua pihak yang benar-benar mencintai GMNI.
Haul Bung Karno tahun ini bukan hanya momen mengenang, tetapi saat untuk merenung dan bertindak.
Konsolidasi Nasional GMNI yang diselenggarakan di Blitar pada 21–22 Juni 2025 dan melahirkan Forum Nasional Komunikasi Persatuan adalah harapan yang lahir dari kegelisahan ideologis dan kepedihan struktural yang telah menjerat GMNI selama lebih dari enam tahun terakhir.
Dualisme GMNI bukan sekadar konflik administratif ini adalah kegagalan kolektif dalam menjaga rumah ideologis perjuangan kaum marhaenis.
Polarisasi yang berkepanjangan antara dua kubu elite organisasi telah membuat agenda-agenda nasional mandek, kaderisasi stagnan, dan akar rumput kehilangan arah.
Basis cabang, komisariat, dan anggota di lapangan menjadi korban utama dari ketidakpastian dan kebuntuan ini.
Baca Juga : Tolak Dualisme : GMNI Malang Desak Percepatan Kongres Persatuan GMNI
GMNI telah kehilangan ruh nasionalnya karena terlalu lama terseret dalam pertarungan simbolik, bukan pertempuran substansial. Tidak ada lagi gerakan nasional yang utuh; tidak ada lagi narasi kolektif yang menyatukan.
Yang tersisa hanyalah egosektoral yang saling berebut panggung, sementara ideologi marhaenisme hanya menjadi jargon di spanduk, bukan prinsip dalam tindakan.
Hadirnya Forum Nasional Komunikasi Persatuan adalah terobosan penting yang perlu didukung semua pihak yang benar-benar mencintai GMNI.
Forum ini harus dijadikan instrumen pemersatu, bukan sekadar meja perundingan kosong. Ia harus menjadi ruang dialog terbuka yang mengembalikan GMNI ke rel ideologi, organisasi, dan strukturalnya.
Teori politik klasik menyebut bahwa ketika institusi kehilangan fungsi artikulatifnya yakni, mewakili kepentingan anggota dan mengarahkan gerak organisasi secara utuh maka yang terjadi adalah delegitimasi.
GMNI hari ini berada di ambang itu. Maka, Forum Blitar adalah respons ideologis terhadap krisis representasi dalam tubuh GMNI.
DPC GMNI Malang menyerukan: tinggalkan ego, akhiri friksi, dan hentikan eksploitasi organisasi demi kepentingan elitis. Komunikasi positif dan terbuka harus menjadi prinsip dasar menyongsong satu GMNI. Kita harus menyadari bahwa GMNI bukan milik segelintir elite, tapi milik semua kader, milik masa depan bangsa.
Sebagaimana Bung Karno menyatakan: “Kita ini bukan sekadar kumpulan manusia, kita adalah alat sejarah.”
Maka jangan biarkan sejarah mencatat bahwa kita gagal menjaga GMNI karena lebih memilih kubu daripada perjuangan.
Mari pulangkan GMNI ke pangkuan rakyat marhaen. Mari satukan GMNI demi satu cita: Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.**







