Ancaman terhadap eksistensi manusia telah berlangsung selama ribuan tahun. Awalnya, ancaman ini muncul dengan hadirnya seorang eksistensialis pertama, yaitu bapak manusia.
Ancaman terhadap eksistensi manusia telah berlangsung selama ribuan tahun. Awalnya, ancaman ini muncul dengan hadirnya seorang eksistensialis pertama, yaitu bapak manusia. Ia menjalani kehidupannya bersama ibu manusia selama ratusan tahun (umur mereka tidak dapat dibandingkan dengan umur anak-anak manusia saat ini). Bapak dan ibu manusia ini beranak pinak setiap tahunnya, dan keturunan mereka terus berkembang selama ratusan tahun.
Namun, ketika populasi anak-anak manusia semakin banyak, suatu kejadian fenomenal terjadi: bapak manusia ditetapkan sebagai raja. Inilah kontrak sosial-politik pertama dalam kehidupan sosial manusia. Seiring waktu, kontrak sosial ini menjalankan fungsi sederhananya, yaitu distribusi keadilan secara proporsional berdasarkan hierarki keturunan. Anak pertama menduduki peringkat kedua dalam kekuasaan, dan seterusnya secara bertingkat.
Pada masa itu, kehidupan sosial berjalan lancar dan normal, dengan kesejahteraan, keadilan, serta kedamaian menjadi milik anak-anak manusia secara esensial. Namun, bumi mulai menjadi ajang persengketaan ketika kawasan-kawasan subur dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tumbuh secara alamiah.
Awalnya, bapak dan ibu manusia dikenal sebagai orang tua yang adil dan bijaksana. Tidak ada anak manusia yang kelaparan, marah, membenci, atau mendendam. Tidak ada ketakutan, kecemasan, hukuman, penyakit, atau pencurian. Mereka hidup selaras dengan alam, sebagaimana disebut oleh para pemikir naturalis sebagai naturalisme.
Namun, konflik mulai muncul ketika beberapa orang menemukan lahan subur baru dan menggarapnya tanpa memberitahu kelompok induknya. Ketika panen tiba, kelompok induk ingin turut memanen, tetapi ditolak oleh penggarap dengan alasan logis: bagaimana mungkin kalian yang tidak ikut menanam tiba-tiba ingin memanen? Inilah awal mula konflik, yang kemudian diselesaikan melalui bentuk pertama upah. Ini menandai kontrak sosial pertama antar-manusia.
Baca Juga :Â Esai Filsafat Joko Sukmono : Tahun Baru
Seiring waktu, kehidupan menjadi lebih kompleks. Rezim politik yang berkuasa saat itu mengeluarkan dekrit sakral yang membolehkan poligami bagi pejabat penting, dengan bapak manusia sebagai pihak pertama yang mendapat hak memilih selir. Keputusan ini menciptakan rezim patriarki pertama, yang menimbulkan konflik psikologis dan sosial. Kelompok-kelompok kecil yang menentang dekrit tersebut berkembang menjadi kekuatan yang mampu mengimbangi rezim politik.
Konflik fisik pertama pun terjadi, dengan banyak korban di pihak penentang dekrit. Inilah awal munculnya janda dan prostitusi. Kehidupan sosial semakin bergejolak, dan candu kehidupan pertama muncul dari kebebasan yang terselubung, menciptakan kenikmatan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Manusia adalah makhluk multi-dimensi yang hidup dalam ruang dan waktu, dengan historisitas yang harus dipahami. Manusia adalah kebebasan, dan setiap individu berhak menciptakan dirinya sendiri secara bebas. Namun, sejarah penuh tragedi:
– Revolusi pemikiran diakhiri dengan eksekusi Socrates.
– Revolusi spiritual diselesaikan dengan penyaliban Yesus Kristus.
– Revolusi politik ditandai dengan pembunuhan Raja Louis XVI di Prancis.
Eksistensi manusia di muka bumi terancam oleh lembaga-lembaga yang melembaga, seperti rezim politik, sosial, atau lainnya, yang mengeksploitasi manusia melalui intimidasi, sabotase, atau narasi kebenaran dan kebaikan yang memicu fanatisme serta loyalitas berlebihan.
Tulisan ini berseri.
Selamat belajar dan semoga bermanfaat.
Oleh : Joko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatihan
Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (NASMAR)










