Situasi Sosial Distribusi dan Adaptasi di Era Revolusi Industri. Perubahan pola pikir global dan dampaknya terhadap interaksi sosial manusia.
Situasi sosial saat ini berada pada kondisi yang distributif dan adaptif terhadap seluruh aspek kehidupan sosial. Hal itu disebabkan oleh perubahan mindset dan kepesatan sains dan teknologi yang dibarengi oleh tindakan-tindakan produktif yang progresif berupa revolusi industri.
Kondisi sosial yang distributif adalah keadaan yang tak terelakkan berupa transformasi (pemindahan) nilai-nilai segenap aspek kehidupan sosial tanpa mengenal batas negara dan budaya. Sedangkan kondisi sosial yang adaptif telah menjadi model desain yang populer yang membuat anak-anak manusia memasuki sebuah ruang yang bernama ruang imitatif yang akut.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa situasi sosial saat ini berada dalam pergerakan distributif yang diterima dengan keniscayaan adaptif berupa proses imitatif (pemindahan nilai-nilai yang ditiru yang mampu membentuk identitas, integritas, dan loyalitas). Distribusi yang progresif ini tidak tiba-tiba turun dari langit melainkan melalui proses yang cukup panjang sebagai buah hasil dari tindakan-tindakan produktif anak-anak manusia dalam rangka mendunia seperti adanya ruang sosial yang semakin terbuka dalam mengakses pengetahuan dan teknologi, semakin leluasanya mendapatkan informasi, dan semakin besarnya kesempatan untuk menyampaikan pendapat meskipun hanya sebatas persepsi saja, dan sebagainya.
Baca Juga :Â Berindonesia atau Bubar: Jalan Terakhir Menuju Kedaulatan Sejati
Distribusi adalah kosa kata yang tepat untuk zaman ini. Distribusi adalah kontingensi yang ideal bagi zaman ini; zaman adalah pola pikir yang telah menyebar ke segenap lapisan masyarakat. Kontingensi adalah konvergensi yang presisi antara esensi dan substansi; kontingensi tidak berdiri sendiri sebagai suatu pengertian. Pengertian itu berada pada wilayah esensi, sedangkan substansi berwilayah pada fenomena yang tampak dalam situasi empiris. Dari keduanya ini, esensi dan substansi, secara metodologis menciptakan kontingensi.
Kembali kepada distribusi yang dengan demikian mempunyai makna sentral dalam aktivitas kehidupan sosial manusia, karena distribusi adalah kosa kata yang mampu mewakili semua proses tahap dan menjadi dalam kehidupan sosial manusia. Distribusi adalah transformasi (pemindahan) dari satu koordinat ke koordinat lain. Distribusi adalah pembagian dari volume yang besar menjadi bagian yang lebih kecil. Dalam situasi tertentu, distribusi bisa konkret menjadi suatu paradigma yang mempostulat dalam artian bahwa distribusi adalah bentuk keberadaan yang disepakati.
Demikian konkretnya istilah distribusi ini, sehingga sudah konkret dalam ruang dan waktu menjadi predikat yang melekat kepada manusia konkret, misalnya distributor, menteri koordinator produksi dan distribusi di era kabinet pembangunan, dan sebagainya. Ada beberapa kalimat yang cukup fundamental dengan penggunaan istilah distribusi, misalnya distribusi benda-benda ekonomi, distribusi keadilan, dan sebagainya.
Baca Juga:Â Penting Gerak Idologi dan Politik
Dengan semakin populernya istilah distribusi ini, sehingga istilah ini telah menjadi konsumsi publik yang bisa dijadikan instrumen bagi anak-anak manusia untuk melihat dunia. Bahkan saat ini istilah distribusi ini telah merambah ke wilayah politik, contoh istilah distribusi yang biasa digunakan oleh politisi mulai dari wakil rakyat sampai presiden, misalnya, “Presiden telah mendistribusikan bansos kepada rakyat yang berhak menerimanya.” Contoh lagi khususnya wakil rakyat, misalnya, “Anggota DPR sedang mendistribusikan sembako kepada rakyat,” dan yang fundamental adalah tentang istilah distribusi yang dibebankan kepada presiden untuk dimanifestasikan sesuai dengan perintah konstitusi yaitu: presiden mempunyai tugas pokok dalam menjalankan pemerintahan yaitu mendistribusikan keadilan.
Distribusi bisa juga dikatakan sebagai virus mental pragmatik yang sanggup membentuk perilaku umum, karena dia telah menjadi konsumsi publik yang sanggup mengharu biru kehidupan sosial anak-anak manusia. Di era digital ini, distribusi mutlak bermuatan distribusi. Dia adalah framing, dia adalah persepsi yang dengan leluasa menjelajah dunia media sosial. Distribusi pikiran sudah tidak lagi disalurkan lewat media cetak maupun elektronik karena itu sudah usang, melainkan lewat media sosial.
Kemudian, progresivitas distribusi ini memasuki wilayah kejiwaan anak-anak manusia yang mempunyai sifat dasar yang bernama ko-adaptasi kemudian berkembang menjadi komodifikasi yang terus berproses menjadi yang bernama imitasi (meniru). Inilah yang dinamakan proses pengasuhan anak-anak manusia dalam kerangka besar yang bernama interaksi sosial. Dalam asuhan siapakah anak-anak manusia yang tinggal di muka bumi ini dalam rangka mendunia? Apakah dalam asuhan keluarga? Tidak. Apakah dalam asuhan komunitasnya? Tidak. Apakah dalam asuhan rezim politik? Tidak. Apakah dalam asuhan rezim sosial? Tidak. Apakah dalam asuhan rezim kebudayaan? Tidak. Apakah dalam asuhan rezim keagamaan? Tidak.
Baca Juga :Refleksi 20 Mei 2025: Kebangkitan Nasional dalam Etos Kerja dan Kepemimpinan Publik
Anak-anak manusia itu dalam kehidupan sosialnya berada di bawah asuhan hukum rasional sejarah yang bermanifestasi sebagai hukum rasional perubahan. Yang didistribusikan dalam sosial progres (pergerakan sosial) itu adalah inovasi yang bersifat dinamis, bukan yang statis. Inilah yang dinamakan pembedaan antara anak-anak manusia masa kini dengan anak-anak manusia masa lalu. Sementara itu, sosial progres dalam pergerakannya mengalami benturan-benturan sosial yang tak terelakkan, dan berakibat pada jebolnya konstruksi sosial yang tidak adaptif terhadap hukum rasional perubahan. Inilah yang dinamakan konstruksi sosial yang rentan terhadap perubahan sosial. Dalam pada itu, sosial progres bergerak terus beriringan dengan hukum rasional sejarah di kehidupan sosial manusia sepanjang masa. Yang abadi adalah perubahan.
Selamat belajar dan membaca, semoga bermanfaat.
Tulisan ini berseri.
Oleh : Joko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatian
Gerakan Pemuda dan Pelatihan
(NASMAR)










