Home / Opini / Dimensi Sosial : Realitas Sosial dan Rasional Historis | Joko Sukmomo

Dimensi Sosial : Realitas Sosial dan Rasional Historis | Joko Sukmomo

Dimensi Sosial menggunakan RASIO HISTORIS, dengan melihat secara jernih hal-hal yang terhubung dengan Hukum Rasional Perubahan Sosial.

Dimensi Sosial adalah keseluruhan realitas sosial. Dimensi Sosial tampak dalam bagian-bagiannya berupa Postulat Sosial, Peristiwa Sosial, dan Situasi Sosial.

Dimensi Sosial juga menunjuk kepada RUANG SOSIAL, yang di dalamnya terdapat Sosial Budaya dan Sosial Politik.

Dalam penjelasannya, Dimensi Sosial memandang keseluruhan REALITAS SOSIAL dengan pendekatan Hukum Rasional Sejarah.
Dalam metodologinya, Dimensi Sosial menggunakan RASIO HISTORIS, dengan melihat secara jernih hal-hal yang terhubung dengan Hukum Rasional Perubahan Sosial.

Baca Juga : Revolusi Sosial: Gerak Sejarah dan Hukum Rasional Perubahan | Joko Sukmono

Ada sebuah pemikiran revolusioner dari seorang filsuf besar tentang REALITAS SOSIAL konkret yang meledakkan Perang Dunia II sebagai berikut:
Nietzsche adalah filsuf eksistensialis yang berfilsafat dengan 🔨 (PALU).
Pancang-pancang kebenaran dan kebaikan diremukkan dengan palu, karena telah membunuh jiwa-jiwa anak manusia.
Dengan menghancurkannya, anak-anak manusia dapat hidup OTENTIK sebagai Manusia Konkret.
Kebangkitan anak-anak manusia adalah menjadi Manusia Unggul (manusia berdasarkan eksistensinya yang otentik), dalam istilah Indonesia disebut Manusia yang BERDIKARI (meminjam istilah Bung Karno).

Manusia unggul adalah Manusia Konkret.
Manusia unggul adalah Manusia Konkret yang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menghidupi dirinya sendiri, mampu melindungi dirinya sendiri, tanpa harus meminta pertolongan dari orang lain, negara, masyarakat, maupun agama.
Pertolongan dari ketiganya dianggap ILUSIF, karena sudah ribuan tahun tidak kunjung tiba.

Dalam kehidupannya di dunia, manusia KONKRET menghargai keberadaannya sendiri tanpa menunggu pengakuan dari pihak lain.
Hamparan kehidupan sosial manusia yang luas meniscayakan keberadaan manusia KONKRET yang bermoral TUAN (menjadi SUPERMAN).

Siapakah yang terinspirasi oleh Nietzsche?
Dialah Adolf Hitler, yang terbukti dalam sejarah dunia sebagai manusia unggul yang mampu membakar Eropa dalam Perang Dunia II.
Tidak tepat jika segala tuduhan dialamatkan kepadanya, karena Perang Dunia II bukanlah persoalan etika maupun hukum internasional, melainkan manifestasi dari Panggilan SEJARAH.

Baca Juga : Monolog | Esai Filsafat | Joko Sukmono

Pada suatu waktu, terjadi sebuah kejadian fundamental:
Sebuah lembaga baru berdiri, dibatasi oleh tembok-tembok raksasa, gedung-gedung putih, rumput hijau, dan kebun binatang yang berwujud manusia.
Sementara itu, sesosok Kampus Biru berubah menjadi Kelabu.
Semangat Merah, api revolusi, dan api kemarahan dibakar habis oleh BOM ATOM.
Kampus itu menjadi saksi bisu.
Kampus itu diam, tanpa suara, bahkan tanpa bahasa.

Mendadak, HITLER dan STALIN berkata:
“Ayo kita kuasai dunia!” kata Stalin.
Hitler membentak, “Pergilah ke Timur, hai Komunis, dan aku pergi ke Barat!”

Secepat kilat, momen historis terjadi.
Gemuruh sejuta marinir mendarat di Normandia.
Konspirasi Hitler dan Stalin gagal.
Hiroshima dan Nagasaki dibakar BOM ATOM.

Benar-benar hebat si keparat Amerika...

Tetapi…

Di sebelah tenggara bumi ini, ada yang meledakkan REVOLUSI SOSIAL, dengan kulminasi PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA.

Inilah percikan FILSAFAT SOSIAL, catatan kecil tentang REVOLUSI SOSIAL yang terjadi di dunia dalam perspektif dimensi waktu dalam kerangka RASIO HISTORIS.
Revolusi Sosial belum selesai.
Hanya tinggal menunggu Panggilan SEJARAH.

Mendadak petir menyambar di siang hari.
Kampus yang tragis, akankah kau menjadi sebuah tragedi?
Ketika badai lewat dengan dahsyat, sekilas tampak potret Sokrates berjabat tangan dengan Plato.
Sebuah peristiwa fundamental…
Sebuah kejadian monumental…

Ketika Plato mengadakan pembelaan terhadap Sokrates.
Tak peduli bahwa Plato adalah bangsawan.
Tak peduli bahwa Sokrates adalah anjing.

Baca Juga : Pada Hari Ini: Situasi Batas Sosial dan Manusia Konkret | Djoko Sukmono

Mendung pun menutup bumi…
Menutup segalanya…
Setiap orang kelabakan…
Tak tahu harus ke mana…
Tak tahu harus berbuat apa…

Ini sebenarnya apa…?
Dan ulah siapa…?

Sementara gelora jiwa tetap membara…
Semangat Merah menjadi Semangat Baru…

Dan sang Bijaksana lewat dan berkata:
“Cintailah Kebijaksanaan.”


Oleh : Joko Sukmono

Badan Pendidikan dan Pelatihan

Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis

( NASMAR )

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *