Home / Opini / Esai Filsafat Joko Sukmono : Tahun Baru

Esai Filsafat Joko Sukmono : Tahun Baru

Tahun Baru adalah perintah dari Yang Berkuasa kepada seluruh anak manusia untuk tunduk kepada Hukum Rasional Peralihan dari tahun ke tahun

Tahun Baru terdiri dari dua kata, yaitu tahun dan baru. Jika dipisah, tahun adalah perjalanan waktu yang dihitung secara rinci: dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, hingga dari bulan ke tahun.
Dari pengertian tersebut, timbul pertanyaan: siapakah yang menciptakan waktu? Untuk apakah waktu itu ada? Dan untuk siapakah waktu itu diperuntukkan?

Dalam berbagai pergaulan sehari-hari, waktu telah sejak ratusan tahun menjadi polemik. Bahkan, ia bisa memicu konflik hingga perang antarbangsa maupun antargolongan agama.
Waktu melahirkan berbagai deskripsi dan perspektif, tetapi tetap saja ada upaya saling menyalahkan antarpendukungnya. Mereka sering membanggakan budaya waktu yang dianut, berupa kalender yang dianggap sakral karena berhubungan dengan figur-figur tertentu. Figur-figur ini sering dianggap sebagai tonggak sejarah terciptanya kalender, yang diyakini dapat mewakili gerak kehidupan sosial manusia secara universal.

Waktu, yang diterjemahkan ke dalam bentuk nyata berupa kalender, telah dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan wajib ditaati oleh manusia.
Lalu, muncul pertanyaan: mengapa selalu ada Januari yang berulang (kalender Masehi)? Dan mengapa selalu ada Muharram yang berulang (kalender Hijriah)?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jarang diajukan karena dianggap tabu oleh sebagian besar orang.

Baca Juga : Esai Filsafat Joko Sukmono : Tahun Baru

Kemudian, apa yang sebenarnya terjadi pada waktu yang diwakili oleh kalender itu?
Siapakah yang memiliki otoritas atasnya dan mewajibkan manusia untuk mematuhinya?
Apakah waktu itu begitu penting bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi?
Serangkaian pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang otentik.

Berikut ini adalah berbagai gambaran yang dapat menjelaskan:
Yang benar-benar terhubung langsung dengan waktu adalah manusia itu sendiri, karena hanya manusia yang dapat merasakan keberadaan waktu, terlepas apakah waktu itu benar-benar ada atau hanya sebuah ilusi.
Terlepas dari apakah waktu itu ilusi atau bukan, faktanya waktu telah dijadikan barometer dalam mendefinisikan dan mengatur aktivitas manusia. Hal ini secara rinci direpresentasikan melalui kalender. Contohnya, peristiwa politik pertama yang dicatat sebagai Hari Lahirnya Bangsa Indonesia berbunyi:

“Pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah Hari Lahirnya Bangsa Indonesia dengan Proklamasi yang dibacakan oleh Sukarno: ‘Kami, Bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Kemudian, pada 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melantik presiden dan wakil presiden (Sukarno dan Hatta) serta mengesahkan UUD 1945. Dengan demikian, berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai tambahan gambaran tentang waktu, di bawah ini dapat dijadikan referensi.
Demikianlah kajian tentang waktu yang terhubung langsung dengan eksistensi manusia, dalam hal ini sebagai penjelasan tentang tahun dalam perspektif sejarah.

Sebagai kosa kata berikutnya, berikut adalah penjelasan filosofis tentang baru:
Apa itu baru? Siapa yang dimaksud dengan baru?

Baru adalah keadaan yang berbeda dari lama dan tidak memiliki keterkaitan dengannya. Jika suatu keadaan masih berhubungan dengan yang lama, itu bukanlah baru, melainkan kelanjutan dari yang lama dengan alasan menyempurnakan yang lama agar menjadi lebih baik. Argumen semacam ini telah terus-menerus dipelihara selama ribuan tahun, seolah-olah secara sosio-historis kita memiliki kewajiban terhadap yang lama. Seakan-akan, tidak ada yang lebih baik atau benar jika tidak melanjutkan yang lama, meskipun bersifat evaluatif.

Baca Juga : Menyongsong Perubahan Signifikan

Baru juga merujuk pada siapa yang baru. Mereka yang baru adalah individu atau kelompok yang benar-benar berbeda dari individu atau kelompok yang lama.
Manusia yang baru adalah mereka yang memiliki:
– Pola pikir yang baru, yaitu pola pikir yang logis dan realistis.
– Pola berbicara yang baru, yaitu pola berbicara yang terstruktur dan sistematis.
– Pola bertindak yang baru, yaitu tindakan administratif yang berorientasi dinamis.

Sebuah ilustrasi:
Ada suatu lembaga baru yang berani meninggalkan gumpalan warisan lama, melampaui batas situasi yang ada, tidak bergantung pada yang lama, dan berlari meninggalkan yang lama tanpa pernah menoleh kembali. Apa yang terjadi pada yang lama kemudian tidak lagi menjadi persoalan bagi yang baru.
Kepada mereka yang baru, tetaplah tegar dan berani, meskipun banyak warisan lama yang berusaha menghalangi langkah kalian untuk menjadi yang baru.

Dari dua gambaran di atas mengenai kosa kata tahun dan baru, lahirlah sebuah definisi yang otentik:
Tahun Baru adalah perintah dari Yang Berkuasa kepada seluruh anak manusia untuk tunduk kepada Hukum Rasional Peralihan dari tahun ke tahun, agar hidup dan kehidupan sosial manusia berjalan secara sederhana sesuai dengan catatan Hukum Rasional Sejarah.

Tahun Baru boleh dirayakan atau tidak dirayakan, karena hingga saat ini, pada tanggal 1 Januari, belum ada bukti konkret mengenai waktu yang otentik maupun baru yang otentik.


Oleh : Joko Sukmono

Badan Pendidikan dan Pelatihan

Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (NASMAR)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *