Home / Puitis / Luka Menahan Air Mata

Luka Menahan Air Mata

Diam-diam, di sudut malam, ada perempuan yang menangis—bukan karena cinta, tapi karena kehilangan arah yang tak pernah benar-benar dimengerti

Tidak tertahan lagi semuanya pecah seketika. Aku tak kuasa menahan segalah beban kehilanganmu dan perasaan yang entah pada siapa labuhannya.

Semesta cukup tahu bahwa ini tak pernah mudah bagiku, dan tak pernah adil untuknya, pun tak pernah sanggup untukku jika harus memaksakan bukan kamu lagi orangnya.

Mengapa sesakit ini, tak ada yang mampu memahami keadaan ini. Semua hanya memikirkan perasaan masing-masing, dan menolak kebisingan perasaanku yang masih begitu sulit memahami situasi ini.

Setangkai senja aku patahkan dahannya. Hari ini aku membawa senja itu menerangi kering mataku yang redup sebab tak mampu menatap dunia yang begitu kejam padaku.

Jiwaku merana dalam bait-bait aksara dan tak seorangpun yang tahu—bahwa diam-diam disudut malam ada perempuan yang selalu saja menagis sebab dihantam hebat seisi kepala hanya untuk berpura-pura bahagia.

Tak ada yang benar-benar memahami keadaanya, kini retina itu kehilangan cahaya untuk menatap pagi.

Baca Juga : Prosa yang Tak Pernah Kau Balas: Tentang Aku, Luka, dan Keputusanmu

Ingin memejam namun keadaan begitu kejam mengulik perasaan yang masih saja diperdebatkan.

Aku sedang berada diantara tubir yang tak ingin menggenggam tangan siapapun lagi.

Aku sempat kehilangan seseorang yang pernah aku genggam tangannya, lalu seseorang mengulurkan tangganya untuk menggenggamku, padahal aku hanya ingin menggenggam ketenangan.

Aku tak pernah ingin berada diantara dua pilihan—antara memilihmu atau memilihnya.

Sebab keduanya tak pernah menjadi pilihan untuk aku ambil perbandingannya. Jika pun harus memilih, aku lebih memilih untuk tetap sendiri tanpa melibatkan siapa-siapa lagi.

Aku lelah, aku telah kehilangan arah. Aku hanya butuh rebah tanpa dipaksakan harus menetap pada siapa.

Untuk itu mengertilah, jangan selalu memaksakan harus tinggal dirumah yang mana.

Karna sejatinya sampai detik ini, aku tidak pernah benar-benar mendapatkan tempat yang disebut dengan rumah.

Sungguh aku tak ingin menggenggam tangan siapapun lagi, sebab yang ingin aku genggam saat ini hanyalah ketenangan!

Oleh : Ona Ngary

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *