Home / Puitis / Prosa yang Tak Pernah Kau Balas: Tentang Aku, Luka, dan Keputusanmu

Prosa yang Tak Pernah Kau Balas: Tentang Aku, Luka, dan Keputusanmu

Jika kau cukup bijaksana membedah luka, kau akan tahu—orang yang paling berduka dalam perpisahan ini adalah aku

Aku menuliskan-mu dengan pena yang terbata-bata, sesekali mengusap kerling mataku yang berkaca-kaca.

Aku tak mampu menyikapi sikapmu yang berubah-ubah. Terkadang menunjukan kau yang baik-baik saja setelah berpisah, namun membuat sesak jika berbicara.

Senda gurau yang kau kemas membuatku tak melihat setitik pilu. Membuatku beranggapan bahwa kau telah berangsur-angsur pulih.

Baca Juga : Jiwa Merdeka: Antitesis Wabah Korupsi

Kau selalu mengatakan bahwa telah tersakiti, namun aku yang tersayat berkali-kali sebelum kau nobatkan dirimu sebagai sosok yang paling dilukai.

Kali ini aku tak membantahnya, untuk setiap kata yang tak mampu aku sanggah—bahkan dengan air mata.

Kau sungguh berangsur-angsur membuatku ingin mengubur semuanya secara menyeluruh; Kau dan segalah yang telah membuatku setengah runtuh.

Baiknya seperti katamu, tak perlu memikirkan yang lain sebelum dirimu.

Tak perlu mengobati yang lain, sebelum lukamu. Tak perlu berdarah untuk orang yang tak siap menawarkan bahu.

Sebab jika ingin berpisah maka sebaiknya asing saja. Mungkin aku tak sepandai dirimu yang terburu-buru—melampiaskan kekesalan-mu, aku tak sebijak dirimu untuk memutuskan prahara hidupku.

Maka beriringan dengan air mata, aku mengiyakan untuk setiap permintaanku yang kau jawab dengan keputusan terbaikmu.

Baca Juga : Refleksi Kolaborasi Tripusat Pendidikan Untuk Menanggulangi Merosotnya Nilai Integritas

Sisa asa yang sudah susah kita telan paksa akhirnya benar-benar membuat kita semakin sengsara.

Kau pun tidak pernah tahu, bagaimana sulitnya kepalaku memerangi keadaan ini. Aku terpaksa mengubur rasa menjadi siksa, mengubur diriku hidup-hidup pada liang yang kau sebut derita.

Jika boleh aku bicara, semua yang pernah kau balas dengan kata-kata negosiasi telah aku pikirkan setengah mati, bahwa alasan yang membuatku tetap ingin sendiri—hanyalah bagaimana aku tengah menyelamatkan diriku dari amarahmu yang kerap melukaiku tanpa rasa bersalah.

Namun jika kau cukup bijaksana dalam membedah luka-luka, kau akan mendapati orang yang paling berduka dalam peristiwa yang nyaris membuat gila; Ia adalah (Aku).

Oleh : Ona Ngary

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *