Dalam dunia Marx, struktur sosial bukan sekadar gambaran, tapi KENYATAAN yang bekerja — diam-diam atau keras — dalam denyut setiap kelas, dalam setiap detik waktu produksi
Idealisme adalah sebuah POTRET Realitas yang esensial yang UTUH dan menyeluruh
Contoh:
Logan itu adanya di dunia Ide, akan tetapi Logam KONKRET didalam Tempat menjadi Baja, Besi, Emas, Perak, Nikel dsb.
Manusia itu adanya didunia ide akan tetapi Konkret dalam Ruang Menjadi INISIAL yang saat ini di Abad 21 ini Menjadi individu individu berjumlah 8 milyar orang.
RASIO adalah sebuah REALITAS
RASIO adalah sebuah REALITAS HISTORIS
RASIO adalah Ruang bagi adanya Trans IDE
RASIO dengan sifat Rasionalitasnya yang LOGIS dan Realistis merupakan instrumen utama untuk TAHU dan Mengetahui tentang adanya dan menjadinya Sesuatu.
REALISME adalah Peristiwa Peristiwa Faktual yang Terhubung dengan Dunia IDE.
REALISME adalah Manifestasi DUNIA IDE pada Ruang tempat dan waktu
REALISME adalah Relevansi Dunia IDE Dengan Fenomena.
REALISME adalah GRAAk Sejarah IDE yang menunjuk KEPADA Keberadaan MATERI.
Didalam REALISME tidak terdapat FAKTA Alternatif.
Didalam REALISME hanya ada satu FAKTA OTENTIK.
Ketika REALISME Menjadi ada maka keberadaan REALISME itu adalah sebuah Keniscayaan Ontologis.
Baca Juga : Kembali ke Dekrit | Joko Sukmono
Ketika REALISME digunakan sebagai Sebuah Methodologi maka yang nampak adalah sebuah SITUASI yang LOGIS dan Realistis.
REALISME dalam Katagori Relasinya dengan Dunia Sosial maka terlihat dengan Terang benderang tentang Keberadaan Realitas Sosial Konkret
Sebuah Pandangan
RASIO HISTORIS Memandang bahwa REALISME telah Konkret didalam Ruang dan waktu Menjadi berbagai dimensi, ia adalah dimensi Religius (darinya menjadikan MANUSIA Theologis)
Kemudian ia Juga menjadi Dimensi ETIS (darinya menjadikan MANUSIA ETIS)
Disamping itu ia Juga Menjadi dimensi Estetis (darinya menjadikan MANUSIA Kebudayaan)
Pemberitahuan….
Siapakah Manusia Realis itu
Manusia Realis adalah manusia MERDEKA yang menyerahkan seluruh hidupnya UNTUK SEJARAH
Pertanyaan muncul ketika ada Klaim Bahwa Hanya Manusia manusia tertentu Saja yang dikatagorikan sebagai Manusia Realis.
Apakah Marx Seorang Realis? Sebuah Analisis Konseptual
Pertanyaan apakah Marx seorang realis mensyaratkan klarifikasi lebih lanjut terhadap istilah “realisme.” Dalam konteks ini, realisme yang dimaksud adalah posisi ontologis bahwa entitas-entitas sosial — seperti kelas, nilai surplus, atau mode produksi — memiliki eksistensi yang independen dari representasi individual atau bahasa yang digunakan untuk menyebutnya. Dengan definisi ini, kita dapat mempertimbangkan apakah Marx berkomitmen pada keberadaan objektif struktur sosial, relasi produksi, dan hukum-hukum perkembangan historis. Dalam banyak bagian dari karya-karyanya, Marx tampaknya beroperasi dalam kerangka konseptual yang kompatibel dengan realisme sosial, dan bahkan memperkuatnya dengan skema eksplanatoris materialis.
Pertimbangkan, misalnya, analisis Marx tentang struktur kelas dalam The Communist Manifesto dan Capital. Marx tidak menggambarkan kelas sebagai kategori nominal atau semata-mata sebagai agregat individu dengan preferensi serupa. Sebaliknya, kelas adalah posisi dalam struktur relasional produksi — borjuis memiliki kontrol atas alat produksi, proletar hanya memiliki tenaga kerja. Relasi ini bersifat objektif dan kausal: kontrol terhadap alat produksi memungkinkan akumulasi nilai surplus, dan hal ini tidak tergantung pada apakah para agen sosial menyadari posisi mereka. Seorang pekerja tetap tereksploitasi meskipun ia secara subyektif merasa puas. Ini adalah klaim ontologis yang khas dari realisme.
Baca Juga : Paradigma Politik | Joko Sukmono
Selain itu, Marx berulang kali merujuk pada “hukum-hukum perkembangan sejarah” (Gesetze der geschichtlichen Entwicklung), yang ia anggap sebagai tidak dapat dihindari dan objektif. Dalam Preface to the Critique of Political Economy, Marx menyatakan bahwa “struktur ekonomi masyarakat adalah fondasi riil tempat bangunan hukum dan politik ditegakkan.” Ini menandakan komitmen terhadap struktur sosial sebagai entitas kausal yang eksis secara independen dari kesadaran individual. Jika perkembangan sejarah dapat diramalkan melalui hukum objektif, maka struktur-struktur yang menjadi parameter hukum tersebut harus memiliki realitas ontologis — bukan semata konstruksi teoritis.
Namun, penting juga untuk mengkaji apakah Marx menganggap semua entitas sosial sebagai realis. Misalnya, dalam analisis ideologi, Marx menyatakan bahwa kesadaran hukum, moral, dan agama dalam masyarakat borjuis adalah bentuk kesadaran semu (falsches Bewusstsein) — refleksi terdistorsi dari relasi material yang riil. Artinya, tidak semua entitas sosial dianggap memiliki status ontologis yang setara. Nilai tukar, misalnya, dalam bentuk uang, memang memiliki efek kausal, tetapi ia tidak identik dengan nilai kerja aktual yang diekstrak dalam proses produksi. Ini menunjukkan bahwa Marx membedakan antara “permukaan fenomenal” dan “struktur yang mendasarinya,” dengan komitmen realis hanya pada yang terakhir. Ia serupa dengan ilmuwan alam yang membedakan antara gejala dan mekanisme kausal.
Lebih lanjut, pendekatan Marx terhadap ekonomi politik bersifat kritikal-transendental. Dalam Capital, Marx tidak sekadar menerima konsep-konsep ekonomi seperti harga, upah, atau modal dalam bentuknya yang lazim, tetapi mengkaji struktur ontologis yang memungkinkan eksistensi konsep-konsep tersebut. Pendekatan ini analog dengan strategi analitik dalam filsafat: untuk menerima sebuah entitas dalam ontologi, kita harus menunjukkan bahwa entitas tersebut memegang peran eksplanatoris yang tidak dapat direduksi. Relasi eksploitasi, menurut Marx, memiliki daya penjelas terhadap dinamika produksi, akumulasi, dan krisis — dan karenanya memiliki legitimasi ontologis.
Secara keseluruhan, meskipun Marx tidak secara eksplisit merumuskan posisi metafisiknya dalam istilah “realisme sosial,” kerangka teoretisnya menunjukkan komitmen terhadap entitas sosial yang objektif, kausal, dan tidak tergantung pada persepsi individual. Ia menolak nominalisme, subjektivisme, maupun kontruksionisme ekstrem. Dengan demikian, sejauh realisme didefinisikan sebagai komitmen terhadap eksistensi independen dari struktur sosial, hukum sejarah, dan relasi produksi, Marx secara fungsional adalah seorang realis.
Realisme Sosial terus bergerak sebagai Alat Sejarah dalam rangka Memenuhi Panggilan SEJARAH
Dan Kita Semua adalah bagian daripadanya.
Tulisan ini berseri
Oleh : Joko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatihan
Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis
( NASMAR )










