Home / Sosbud / BEBAS Menyampaikan Pendapat | Joko Sukmono

BEBAS Menyampaikan Pendapat | Joko Sukmono

Kebebasan menyampaikan pendapat itu tidak diberikan kepada rakyat Indonesia, melainkan dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia yang terus-menerus membentuk opini publik

BEBAS menyampaikan pendapat adalah inti dari proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Peristiwa itu merupakan sebuah demarkasi yang meniadakan seluruh tatanan hukum sebelumnya, baik hukum kolonial Belanda maupun hukum kolonial Jepang.

Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Pernyataan dalam pembukaan UUD 1945 ini adalah pernyataan yang agung dan menjadi cita-cita bersama seluruh anak bangsa Indonesia untuk memiliki kemerdekaan yang otentik.

Kemerdekaan esensial adalah kemerdekaan yang melekat pada setiap individu manusia yang tinggal di muka bumi ini. Dengan demikian, kemerdekaan itu juga melekat secara esensial pada seluruh anak bangsa Indonesia.

Ketika sandang, pangan, dan papan secara bertahap mulai didapatkan oleh anak-anak bangsa Indonesia, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dipandang telah melakukan sebagian tugasnya.

Kemudian, tatkala kemiskinan, kebodohan, dan penindasan mulai diberantas oleh Pemerintah Republik Indonesia, maka negara telah menampakkan fungsinya sebagai pelindung segenap bangsa dan tumpah darah serta seluruh rakyat Indonesia. Meskipun demikian, belum terbukti secara nyata bahwa ketiganya (kemiskinan, kebodohan, dan penindasan) telah terhapus dari bumi Indonesia.

Baca Juga : Menjadi Rakyat | Joko Sukmono

Menyampaikan pendapat sebagai inti dari kemerdekaan Indonesia, apakah sudah didapatkan oleh anak-anak bangsa Indonesia? Jawabannya: belum didapatkan. Mengapa demikian? Karena yang selalu dan sering berpendapat adalah pemerintah dan seluruh kelengkapannya.

Siapa saja mereka? Mereka adalah presiden, DPR, dan semua penyokong kekuasaan.

Inilah pengkhianatan terbesar terhadap kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pernyataan “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia” menimbulkan pertanyaan: siapakah yang merdeka? Yang merdeka adalah bangsa Indonesia. Pernyataan kemerdekaan itu lahir dari semangat kebebasan menyampaikan pendapat, namun kebebasan menyampaikan pendapat itu tidak diberikan kepada rakyat Indonesia, melainkan dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia yang terus-menerus membentuk opini publik. Hal ini berakibat pada pembunuhan karakter bangsa dan penumpulan kecerdasan bangsa.

Inilah yang dinamakan imperialisme yang berkedok sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.

Marhaenis adalah pejuang pemikir yang progresif dan revolusioner dalam memanifestasikan Marhaenisme.
Marhaenisme adalah ideologi yang berlandaskan pada kondisi objektif dan psikologis masyarakat bangsa Indonesia, yaitu: Sosial Nasional, Sosial Demokrasi, dan Sosial Religius.

Dari ketiga dimensi tersebut, Sosial Religius merupakan konstruksi sosial masyarakat, sedangkan Sosial Nasional dan Sosial Demokrasi adalah struktur sosial yang harus dibangun berdasarkan Pancasila. Hal ini sangat mungkin karena ada klaim bahwa Marhaen percaya pada Pancasila. Marhaenis adalah penegak Pancasila.

Tentang nasionalisme, sifatnya bersifat khusus. Hal ini disebabkan oleh perbedaan permasalahan yang dihadapi setiap bangsa. Nasionalisme di Indonesia, Jerman, dan Amerika berbeda.

Di Indonesia, nasionalisme lahir akibat kolonialisme dan imperialisme. Kondisi senasib tersebut membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan untuk melawan serta mengusir penjajah.

Nasionalisme Jerman.
Nasionalisme Amerika.

Sedang dalam penulisan
MERDEKA…!!!

Nasionalisme Indonesia runtuh bersama runtuhnya Sukarno dari kekuasaan. Namun, dalam keruntuhan itu terdapat pesan historis darinya:

Kutitipkan BANGSA dan NEGARA ini kepadamu… 
JADILAH BESAR SEPERTI AKU, akan tetapi jangan kau tiru aku.

Keruntuhanku adalah keruntuhan nasionalisme Indonesia.
Keruntuhanku adalah kegagalan Sosialisme Indonesia.
Keruntuhanku adalah kegagalan Revolusi Indonesia.
Keruntuhanku adalah kehancuran seluruh ide-ide besarku tentang Marhaenisme, Trisakti, dan Manifesto Pancasila sebagai dasar negara serta pandangan hidup bangsa.

Namun, ketika aku kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, akan tumbuh tunas-tunas baru.
Tunas-tunas baru itu akan tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang sanggup melanjutkan Revolusi Indonesia.

Teruslah berjuang, berkorban, dan mengabdi kepada Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wujudkan cita-cita Proklamasi.
Wujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pegang teguh persatuan, kesatuan, dan keutuhan bangsa.

MERDEKA…!!!

Baca Juga : Realisme Sosial | Joko Sukmono

55 tahun sudah berlalu…
Bung Karno telah menjalani tidur panjangnya dalam dekapan hangat Ibu Pertiwi.
Anak-anak bangsa Indonesia menghormatinya sebagai Bapak Bangsa, Pendiri Bangsa, dan Pahlawan Bangsa, yang namanya tertulis tebal dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bagi segenap anak-anak bangsa Indonesia, Sukarno adalah guru sejarah dan pelaku sejarah yang meletakkan dasar bagi Indonesia Merdeka—sebuah negara bangsa yang paripurna.


Selanjutnya inilah penemuan kembali Revolosi Kita yang disampaikan oleh BUNG KARNO dalam Pidato peringatan kemerdekaan Indonesia Pada tgl 17 Agustus th 1959 yang berbunyi sbb :
Rakyat dimana mana Dibawah kolong langit ini, tidak mau Ditindas oleh BANGSA lain, tidak mau diekploitir oleh golongan golongan apapun, meskipun golongan itu adalah dari Bangsanya sendiri.

Rakyat dimana mana Dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan dari Kemiskinan, dan Kebebasan dari Rasa Takut, baik yang karana ancaman yang didalam Negeri, maupun yang karena ancaman dari luar negeri.

Rakyat dimana mana Dibawah kolong langit ini , menuntut kebebasan untuk menggerakkan secara konstruktif Ia punya aktivitas Sosial, untuk mempertinggi kebahagiaan individu dan kebahagiaan masyarakat.

Rakyat dimana mana Dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan untuk mengeluarkan Pendapat, yaitu menuntut hak hak yang lazimnya dinamakan Demokrasi.
Inilah yang dinamakan Budi Nurani Kemanusiaan.
Penemuan kembali jalannya Revolosi Kita.
TTD
SOEKARNO.

Revolosi nasional Indonesia belum selesai
Revolosi kebudayaan
Revolosi politik
Revolosi sosial yang sanggup melawan kolosi dan kolaborasi dari REJIM POLITIK REJIM industri dan REJIM PERADABAN
Kiranya seluruh Rakyat Indonesia menyadari hal ini
REVOLOSI adalah jalan dekat yang tersedia bagi Bangsa Indonesia untuk melanjutkan kehidupan sebagai BANGSA dan NEGARA
Eksistensi BANGSA benar benar telah terancam
Selamat berjuang
MERDEKA….!!!!


Oleh : Joko Sukmono

Badan Pendidikan dan Pelatihan

Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis

( NASMAR )

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *